20 November 2009

Jadi Vegetarian Selamatkan Bumi



Tahukah Anda apabila konsumsi daging, ayam maupun ikan dikurangi, anda berkontribusi terhadap pengurangan efek rumah kaca? Memang mengejutkan. Namun, demikianlah kenyataannya. Kisah ini bisa mengilustrasikannya.

Badan PBB, Food and Agriculture Organization (FAO) melaporkan bahwa pendonor utama pemanasan global berupa efek rumah kaca adalah sektor peternakan sebesar 18 persen. Jumlahnya bahkan lebih besar ketimbang gabungan dari keseluruhan sektor transportasi dunia seperti mobil, kereta, motor dan lainnya (14 persen).


Menipisnya Persediaan Pangan dan Air

Perlu diketahui, telah terjadi ketidakseimbangan pendistribusian pangan yang merupakan dampak tidak langsung dari peningkatan konsumsi daging oleh masyarakat sedunia. Diketahui 2/3 dari hasil pertanian dunia dipakai sebagai bahan makan ternak, sementara hanya 1/3-nya dikonsumsi manusia. Setiap hari 25.000 anak meninggal karena kelaparan dan sekitar 1,02 milyar penduduk dunia menderita kelaparan. Padahal, biji-bijian untuk ternak cukup untuk memberi makan 2 milyar manusia. Apabila permintaan konsumsi daging dunia meningkat, akan berdampak pada resiko rawannya pangan dunia dan pemanasan global yang kian mengkhawatirkan.

Sekarang kita tengok mengapa sektor peternakan bisa sedemikian parahnya mempengaruhi efek rumah kaca. Pertama, sebesar 80 persen hutan Amazon telah dibabat dan lahannya dipakai untuk sektor peternakan. Selain itu, buangan gas yang berasal dari peternakan yang berdampak pada efek rumah kaca adalah sebagai berikut:

1. Metana sebesar 37 persen; efek pemanasan global dari sejumlah gas tersebut 72 kali lebih kuat ketimbang CO2 dalam 20 tahun dan 23 kali lebih kuat dalam 100 tahun.

2. Dinitrogen oksida (65 persen); efek pemanasan global sejumlah gas dinitrogen oksida 296 lebih kuat ketimbang CO2.

3. Amonia (64 persen); penyebab hujan asam.

Parahnya lagi, konsumsi daging dan ayam secara besar-besaran sedunia juga menghabiskan air dengan jumlah yang banyak. Satu porsi daging sapi menghabiskan 1200 galon air dan satu porsi daging ayam menghabiskan 330 galon air. Artinya, 50 persen dari total persediaan air dunia dipakai untuk ternak secara besar-besaran!

Small Things Big Impact

No Meat Day

Penyanyi legendaris dari grup the Beatles, Paul McCartney berkampanye mengajak di Inggris untuk tidak makan daging, ayam maupun ikan selama satu hari dalam seminggu. Di Gedung Putih, para anggota dan karyawannya diajak untuk merayakan "Meatless Monday" setiap hari Senin. Hei, mengapa kita tidak ikut mencobanya?

Untuk menjadi vegetarian memang tidaklah mudah. Siapa yang tidak tergiur dengan fried chicken, steak, chicken teriyaki, soto betawi, iga bakar, dan beragam hidangan dari protein hewani yang rasanya teramat lezat.

Tetapi ini adalah masalah antara mau dengan tidak mau. Anda bisa menguranginya sedikit demi sedikit. Yang paling mudah adalah tidak makan daging hanya dalam waktu sehari dalam seminggu. Pilih hari manapun, entah hari Senin, Selasa, ataupun hari lainnya. Syukur alhamdulillah bila Anda lambat laun tergerak untuk mengurangi konsumsi daging secara konsisten. Menjadi dua hari seminggu..., tiga hari seminggu..., dan seterusnya.

Buang saja anggapan bahwa tanpa konsumsi protein hewani, tubuh akan lemas. Nyatanya, protein nabati jauh lebih baik. Menurut Melanie Polk, penasehat pendidikan nutrisi dari American Institute for Cancer Research, mengonsumsi beragam makanan nabati merupakan hal terbaik yang bisa dilakukan untuk kesehatan. Maka dari itu, nikmati sumber protein nabati seperti kentang, tahu, tempe, kacang-kacangan, sayur-sayuran dan buah-buahan yang berwarna-warni karunia Allah yang tumbuh di tanah air ini.

Sumber:
Majalah NOOR No. 11/November Th. VII/2009

Sumber Foto:
http://childreninshape.com/images/P1010035[1].JPG

25 September 2009

Gunung Merbabu


Ditulis ulang oleh Mutia Ranita
Sumber:
http:/id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Merbabu

Gunung Merbabu adalah gunung api yang bertipe Strato (lihat Gunung Berapi) yang terletak secara geografis pada 7,5° LS dan 110,4° BT. Secara administratif gunung ini berada di wilayah Kabupaten Magelang di lereng sebelah barat dan Kabupaten Boyolali di lereng sebelah timur, Propinsi Jawa Tengah.

Gunung Merbabu dikenal melalui naskah-naskah masa pra-Islam sebagai Gunung Damalung atau Gunung Pam(a)rihan. Di lerengnya pernah terdapat pertapaan terkenal dan pernah disinggahi oleh Bujangga Manik pada abad ke-15. Menurut etimologi, "merbabu" berasal dari gabungan kata "meru" (gunung) dan "abu" (abu). Nama ini baru muncul pada catatan-catatan Belanda.

Gunung ini pernah meletus pada tahun 1560 dan 1797. Dilaporkan juga pada tahun 1570 pernah meletus, akan tetapi belum dilakukan konfirmasi dan penelitian lebih lanjut. Puncak Gunung Merbabu berada pada ketinggian 3.145 meter di atas permukaan air laut.

Jalur Pendakian
Gunung Merbabu cukup populer sebagai ajang kegiatan pendakian. Medannya tidak terlalu berat namun potensi bahaya yang harus diperhatikan pendaki adalah udara dingin, kabut tebal, hutan yang lebat namun homogen (hutan tumbuhan runjung, yang tidak cukup mendukung sarana bertahan hidup atau survival), serta ketiadaan sumber air. Penghormatan terhadap tradisi warga setempat juga perlu menjadi pertimbangan.

1. Kopeng Thekelan
Dari Jakarta bisa naik kereta api atau bus ke Semarang, Yogya, atau Solo. Dilanjutkan dengan bus jurusan Solo-Semarang turun di kota Salatiga, dilanjutkan dengan bus kecil ke Kopeng. Dari Yogya naik bus ke Magelang, dilanjutkan dengan bus kecil ke Kopeng. Dari kopeng terdapat banyak jalur menuju ke Puncak, namun lebih baik melewati desa tekelan karena terdapat Pos yang dapat memberikan informasi maupun berbagai bantuan yang diperlukan. Pos Thekelan dapat ditempuh melalui bumi perkemahan Umbul Songo.

Di bumi perkemahan Umbul Songo Anda dapat beristirahat menunggu malam tiba, karena pendakian akan lebih baik dilakukan malam hari tiba di puncak menjelang matahari terbit. Andapun dapat beristirahat di Pos Thekelan yang menyediakan tempat untuk tidur, terutama bila tidak membawa tenda. Dapat juga berkemah di Pos Pending karena di tiga tempat ini kita bisa memperoleh air bersih.
Masyarakat di sekitar Merbabu mayoritas beragama Budha sehingga akan kita temui beberapa Vihara di sekitar Kopeng. Penduduk sering melakukan meditasi atau bertapa dan banyak tempat-tempat menuju puncak yang dikeramatkan. Pantangan bagi pendaki untuk tidak buang air di Watu Gubug dan sekitar Kawah. Juga pendaki tidak diperkenankan mengenakan pakaian warna merah dan hijau.

Perjalanan dari Pos Tekelan yang berada di tengah perkampungan penduduk, dimulai dengan melewati kebun penduduk dan hutan pinus. Dari sini kita dapat menyaksikan pemandangan yang sangat indah ke arah gunung Telomoyo dan Rawa Pening.

Di Pos Pending kita dapat menemukan mata air dan sungai kecil (Kali Sowo). Sebelum mencapai Pos I kita akan melewati Pereng Putih, harus berhati-hati karena sangat terjal. Kemudian melewati sungai kering, dari sini pemandangan sangat indah ke bawah melihat kota Salatiga terutama di malam hari.
Dari Pos I kita akan melewati hutan campuran menuju Pos II, menuju Pos III jalur mulai terbuka dan jalan mulai menanjak curam. Kita mendaki gunung Pertapaan, hempasan angin yang kencang sangat terasa, apalagi berada di tempat terbuka. Kita dapat berlindung di Watu Gubug, sebuah batu berlobang yang dapat dimasuki 5 orang.

Bila ada badai sebaiknya tidak melanjutkan perjalanan karena sangat berbahaya. Mendekati pos IV kita mendaki Gunung Watu Tulis, jalurnya agak curam dan banyak pasir maupun kerikil kecil sehingga licin, angin kencang membawa debu dan pasir sehingga harus siap menutup mata bila ada angin kencang.

Pos IV yang berada di puncak Gunung Watu Tulis dengan ketinggian mencapai 2.896 mdpl ini, disebut juga Pos Pemancar karena di puncaknya terdapat sebuah Pemancar Radio.
Menuju Pos V jalur menurun, pos ini dikelilingi bukit dan tebing yang indah. Kita dapat turun menuju kawah Condrodimuko. Dan disini terdapat mata air, bedakan antara air minum dan air belerang.
Perjalanan dilanjutkan dengan melewati tanjakan yang sangat terjal serta jurang disisi kiri dan kanannya. Tanjakan ini dinamakan Jembatan Setan. Kemudian kita akan sampai di persimpangan, ke kiri menuju Puncak Syarif (Gunung Pregodalem) dan ke kanan menuju puncak Kenteng Songo (Gunung Kenteng Songo) yang memanjang.

Dari puncak Kenteng Songo kita dapat memandang Gunung Merapi dengan puncaknya yang mengepulkan asap setiap saat, nampak dekat sekali. Ke arah barat tampak Gunung Sumbing dan Sundoro yang akan terlihat sangat jelas dan indah, seolah-olah menantang untuk didaki. Lebih dekat lagi tampak Gunung Telomoyo dan Gunung Ungaran. Dari kejauhan ke arah timur tampak Gunung Lawu dengan puncaknya yang memanjang.

Menuju Puncak Kenteng Songo ini jalurnya sangat berbahaya, selain sempit hanya berkisar 1 meter lebarnya dengan sisi kiri kanan jurang bebatuan tanpa pohon, juga angin sangat kencang siap mendorong kita setiap saat. Di puncak ini terdapat batu kenteng / lumpang / berlubang dengan jumlah 9.
Menuruni gunung Merbabu lewat jalur menuju Selo menjadi pilihan yang menarik. Kita akan melewati padang rumput dan hutan edelweis, juga bukit-bukit berbunga yang sangat indah dan menyenangkan seperti di film India yang sangat menghibur kita sehingga lupa akan segala kelelahan, kedinginan dan rasa lapar. Di sepanjang jalan kita dapat menyaksikan Gunung Merapi yang kelihatan sangat dekat dengan puncak yang selalu mengeluarkan Asap.

Kita akan menuruni dan mendaki beberapa gunung kecil yang dilapisi rumput hijau tanpa pepohonan untuk berlindung dari hempasan angin. Disepanjang jalur tidak terdapat mata air dan pos peristirahatan. Kabut dan badai sering muncul dengan tiba-tiba, sehingga sangat berbahaya untuk mendirikan tenda.
Jalur menuju Selo ini sangat banyak dan tidak ada rambu penunjuk jalan, sehingga sangat membingungkan pendaki. Banyak jalur yang sering dilalui penduduk untuk mencari rumput dipuncak gunung, sehingga pendaki akan sampai di perkampungan penduduk. Sambutan sangat ramah dan meriah diberikan oleh penduduk Selo bagi setiap pendaki yang baru saja turun Gunung Merbabu. Apabila Anda tidak bisa berbahasa Jawa ucapkan saja terima kasih.

Dari Selo dapat dilanjutkan dengan bus kecil jurusan Boyolali-Magelang, bila ingin ke Yogya ambil jurusan Magelang, dan bila hendak ke Semarang atau Solo ambil jurusan Boyolali.

2. Jalur Wekas
Pendakian Gunung Merbabu melalui Jalur Wekas.
Untuk menuju ke Desa Wekas kita harus naik mobil Jurusan Kopeng - Magelang turun di Kaponan, yakni sekitar 9 Km dari Kopeng, tepatnya di depan gapura Desa Wekas. Dari Kaponan pendaki berjalan kaki melewati jalanan berbatu sejauh sekitar 3 Km menuju pos Pendakian.

Jalur ini sangat populer di kalangan para Remaja dan Pecinta Alam kota Magelang, karena lebih dekat dan banyak terdapat sumber air, sehingga banyak remaja yang suka berkemah di Pos II terutama di hari libur. Wekas merupakan desa terakhir menuju puncak yang memakan waktu kira-kira 6-7 jam. Jalur wekas merupakan jalur pendek sehingga jarang terdapat lintasan yang datar membentang. Lintasan pos I cukup lebar dengan bebatuan yang mendasarinya. Sepanjang perjalanan akan menemui ladang penduduk khas dataran tinggi yang ditanami Bawang, Kubis, Wortel, dan Tembakau, juga dapat ditemui ternak kelinci yang kotorannya digunakan sebagai pupuk. Rute menuju pos I cukup menanjak dengan waktu tempuh 2 jam.

Pos I merupakan sebuah dataran dengan sebuah balai sebagai tempat peristirahatan. Di sekitar area ini masih banyak terdapat warung dan rumah penduduk. Selepas pos I, perjalanan masih melewati ladang penduduk, kemudian masuk hutan pinus. Waktu tempuh menuju pos II adalah 2 jam, dengan jalur yang terus menanjak curam.

Pos II merupakan sebuah tempat yang terbuka dan datar, yang biasa didirikan hingga beberapa puluhan tenda. Pada hari Sabtu, Minggu dan hari libur Pos II ini banyak digunakan oleh para remaja untuk berkemah. Sehingga pada hari-hari tersebut banyak penduduk yang berdagang makanan. Pada area ini terdapat sumber air yang di salurkan melalui pipa-pipa besar yang ditampung pada sebuah bak.
Dari Pos II terdapat jalur buntu yang menuju ke sebuah sungai yang dijadikan sumber air bagi masyarakat sekitar Wekas hingga desa-desa di sekitarnya. Jalur ini mengikuti aliran pipa air menyusuri tepian jurang yang mengarah ke aliran sungai dibawah kawah. Terdapat dua buah aliran sungai yang sangat curam yang membentuk air terjun yang bertingkat-tingkat, sehingga menjadi suatu pemandangan yang sangat luar biasa dengan latar belakang kumpulan puncak - puncak Gunung Merbabu.

Selepas pos II jalur mulai terbuka hingga bertemu dengan persimpangan jalur Kopeng yang berada di atas pos V (Watu Tulis), jalur Kopeng. Dari persimpangan ini menuju pos Helipad hanya memerlukan waktu tempuh 15 menit. Perjalanan dilanjutkan dengan melewati tanjakan yang sangat terjal serta jurang disisi kiri dan kanannya. Tanjakan ini dinamakan Jembatan Setan. Kemudian kita akan sampai di persimpangan, ke kiri menuju Puncak Syarif (Gunung Pregodalem) dan ke kanan menuju puncak Kenteng Songo ( Gunung Kenteng Songo) yang memanjang.

3. Jalur Kopeng Cunthel
Pendakian Gunung Merbabu berangkat melalui jalur Kopeng - Cunthel, dan turun mengambil jalur Kopeng Thekelan.

Untuk menuju ke desa Cuntel dapat ditempuh dari kota Salatiga menggunakan mini bus jurusan Salatiga Magelang turun di areal wisata Kopeng, tepatnya di Bumi perkemahan Umbul Songo. Perjalanan dimulai dengan berjalan kaki menyusuri Jalan setapak berbatu yang agak lebar sejauh 2,5 km, di sebelah kiri adalah Bumi Perkemahan Umbul Songo. Setelah melewati Umbul Songo berbelok ke arah kiri, di sebelah kiri adalah hutan pinus setelah berjalan kira-kira 500 meter di sebelah kiri ada jalan setapak ke arah hutan pinus, jalur ini menuju ke desa Thekelan.

Untuk menuju ke Desa Cuntel berjalan terus mengikuti jalan berbatu hingga ujung. Banyak tanda penunjuk arah baik di sekitar desa maupun di jalur pendakian. Di Basecamp Desa Cuntel yang berada di tengah perkampungan ini, pendaki dapat beristirahat dan mengisi persediaan air. Pendaki juga dapat membeli berbagai barang-barang kenangan berupa stiker maupun kaos.

Setelah meninggalkan perkampungan, perjalanan dilanjutkan dengan melintasi perkebunan penduduk. Jalur sudah mulai menanjak mendaki perbukitan yang banyak ditumbuhi pohon pinus. Jalan setapak berupa tanah kering yang berdebu terutama di musim kemarau, sehingga mengganggu mata dan pernafasan. Untuk itu sebaiknya pendaki menggunakan masker pelindung dan kacamata.

Setelah berjalan sekitar 30 menit dengan menyusuri bukit yang berliku-liku pendaki akan sampai di pos Bayangan I. Di tempat ini pendaki dapat berteduh dari sengatan matahari maupun air hujan. Dengan melintasi jalur yang masih serupa yakni menyusuri jalan berdebu yang diselingi dengan pohon-pohon pinus, sekitar 30 menit akan sampai di Pos Bayangan II. Di pos ini juga terdapat banguanan beratap untuk beristirahat.

Dari Pos I hingga pos Pemancar jalur mulai terbuka, di kiri kanan jalur banyak ditumbuhi alang-alang. Sementara itu beberapa pohon pinus masih tumbuh dalam jarak yang berjauhan.
Pos Pemancar atau sering juga di sebut gunung Watu Tulis berada di ketinggian 2.896 mdpl. Di puncaknya terdapat stasiun pemancar relay. Di Pos ini banyak terdapat batu-batu besar sehingga dapat digunakan untuk berlindung dari angin kencang. Namun angin kencang kadang datang dari bawah membawa debu-debu yang beterbangan. Pendakian di siang hari akan terasa sangat panas. Dari lokasi ini pemandangan ke arah bawah sangat indah, tampak di kejauhan Gunung Sumbing dan Gunung Sundoro, tampak Gunung Ungaran di belakang Gunung Telomoyo.

Jalur selanjutnya berupa turunan menuju Pos Helipad, suasana dan pemandangan di sekitar Pos Helipad ini sungguh sangat luar biasa. Di sebelah kanan terbentang Gunung Kukusan yang di puncaknya berwarna putih seperti muntahan belerang yang telah mengering. Di depan mata terbentang kawah yang berwarna keputihan. Di sebelah kanan di dekat kawah terdapat sebuah mata air, pendaki harus dapat membedakan antara air minum dan air belerang.

Perjalanan dilanjutkan dengan melewati tanjakan yang sangat terjal serta jurang disisi kiri dan kanannya. Tanjakan ini dinamakan Jembatan Setan. Kemudian kita akan sampai di persimpangan, ke kiri menuju Puncak Syarif (Gunung Pregodalem) dan ke kanan menuju puncak Kenteng Songo (Gunung Kenteng Songo) yang memanjang.

Dari puncak Kenteng songo kita dapat memandang Gunung Merapi dengan puncaknya yang mengepulkan asap setiap saat, nampak dekat sekali. Ke arah barat tampak Gunung Sumbing dan Sundoro yang kelihatan sangat jelas dan indah, seolah-olah menantang untuk didaki. Lebih dekat lagi tampak Gunung Telomoyo dan Gunung Ungaran. Dari kejauhan ke arah timur tampak Gunung Lawu dengan puncaknya yang memanjang.

Sumber Foto: volcano.oregonstate.edu

14 September 2009

Tips 'Menghijaukan' Lebaran



  • Sebaiknya tidak belanja berlebihan, apalagi bahan makanan yang tidak tahan lama. Karena, nasibnya hanya akan berakhir di tempat sampah.


  • Untuk menjamu tamu, lebih baik menyiapkan piring bambu yang dialasi daun pisang, bukan kertas coklat berlapis plastik. Selain tak harus mencuci piring, lingkungan sekitar terbebas dari racun air sabun.


  • Jika ingin membawakan makanan untuk kerabat dekat, lebih baik tidak menggunakan plastik pembungkus. Pilih besek bambu atau kotak kardus. Akan lebih bagus jika Anda membeli wadah kecil yang bisa dipakai ulang.


  • Ketika bersilaturahmi, Anda pasti disuguhi makanan terus, apalagi jika mengunjungi banyak kerabat. Ukur tingkat kepenuhan perut Anda. Jangan sampai mengambil makanan banyak, tapi akhirnya tak dimakan.


  • Anda mungkin mengira gelas atau wadah styrofoam akan lebih praktis untuk digunakan karena tidak perlu dicuci. Tapi, tahukah Anda, untuk membuat sebuah wadah makanan dari styrofoam, dibutuhkan 3,2 g bahan bakar fosil. Dengan mengurangi wadah styrofoam sebanyak 10%, karbon yang dihemat bisa mencapai 600 kg pertahun.


  • Untuk menata dekorasi ruangan saat lebaran, gunakan pencahayaan lampu Compact Fluorescent Lamp (CFL) karena lebih hemat energi 80% dan lebih tahan lama 10 kali lipat dibanding lampu biasa.


  • Ketika pembantu mudik, tempat laundry biasanya menjadi pilihan untuk mengurangi kerepotan mencuci baju. Satu baju yang datang dari laundry memang wangi dan lembut. Tapi, berapa banyak sampah yang dihasilkan? Yang pasti, ada plastik penutup baju yang sangat besar dan hanger (yang pada umumnya berakhir di tempat sampah karena tidak cantik dan tidak cukup kuat). Selain itu, dry cleaning biasanya menggunakan banyak zat kimia tetrachloroethylene. Zat ini bersifat karsinogen dan bisa memacu asma serta alergi. Tentunya, juga berbahaya bagi lingkungan. Karena itu, lebih baik cucilah sendiri dengan tangan. Kalau terpaksa dry cleaning, sebaiknya hanya untuk membersihkan noda.

Sumber:Femina No. 37/XXXVII 12-18 September 2009


Sumber gambar:www.pasarkreasi.com

03 September 2009

Foto-foto Ciremai

Agak basi, sih... Hehe... Tapi ini foto-foto yang belum sempat diupload di web....













28 Agustus 2009

Tips Go Green dengan Mengurangi Penggunaan Plastik


Setiap kita berbelanja di supermarket atau di warung, sering sekali kita diberi kantung plastik atau kresek guna membawa barang-barang yang telah kita beli di tempat tersebut. Tahukah Anda tiap tahun jutaan kantong palstik/kresek dibuang begitu saja setelah dipakai hanya satu kali. Pasti Anda setuju dengan pendapat saya ini, kresek akan jadi sampah dan akhirnya dibuang dan dibakar.

Di bawah ini ada beberapa tips, supaya ketika Anda diberi kantong kresek saat di kasir, Anda bisa menjawab, "Tidak perlu, saya bawa tas sendiri!"

TIPS:
1. Belilah tas yang tahan lama dan bisa dilipat sehingga praktis dibawa kemana-mana. Biasanya tas tersebut bisa dibeli di supermarket besar yang sudah sadar akan efek buruk dalam menggunakan tas plastik/kresek.
2. Selalu menyimpan tas belanja yang tahan lama setiap Anda bepergian dan disimpan di kendaraan Anda. Sehingga bila berbelanja Anda tidak perlu kantong plasting/kresek lagi. Dan hal ini menjadikan kebiasaan baik Anda saat berbelanja.
3. Sediakan selalu tas plastik kecil yang bisa dipakai ulang guna menyimpan sayur dan buah-buahan. Setelah Anda mengeluarkan sayur-sayuran dan buah-buahan dari dalam kantong plastik, bersihkan kembali kantong tersebut sehingga bisa dipergunakan di lain waktu.
4. Ingatkan kasir bahwa Anda tidak perlu kantong kresek. Biasanya kasir secara otomatis memasukkan belanjaan si pembeli ke dalam kantong kresek. Saat akan membayar, katakan kalau Anda tidak membutuhkan kantong plastik, sambil menunjukkan tas belanja yang sudah Anda bawa.
5. Jelaskan pada kasir alasan Anda membawa tas sendiri. Masih banyak orang yang tidak mengerti mengapa harus menghindari pemakaian kemasan plastik yang hanya satu kali pakai. Kalau mereka paham alasannya, biasanya mereka akan mendukung upaya seperti ini, apalagi kalau Anda sering belanja di pasar swalayan mereka.
6. Bila Anda lupa membawa tas belanja, Anda bisa menggunakan tas plastik pemberian kasir tetapi jangan lupa setelah digunakan, lipatlah dengan rapi sehingga tas tersebut bisa Anda pergunakan kembali di saat Anda membutuhkan.

Dengan Anda melakukan tips ini, berarti Anda menyayangi lingkungan Anda tempat Anda berdiam.

Sumber: Bandung Advertiser
Sumber foto:makeyourhomegreen.vic.gov.au

20 Agustus 2009

Menelusuri Kemegahan Ciremai (3078 mdpl)


Sesuai rencana, IATMI Komisariat Cirebon kembali mendaki Gunung Ciremai pada tanggal 7 - 9 Agustus yang lalu. 'Petualangan' dimulai dari perkemahan di Curug Muara Jaya. Tenda-tenda didirikan di dekat air terjun, dilengkapi dengan api unggun dan menu ayam serta ikan bakar. Ditemani teh dan kopi panas untuk menghalau dingin, menjadikan makan malam di alam terbuka menjadi istimewa.

Pagi hari, setelah sarapan, seluruh peserta trekking menyempatkan diri menikmati pemandangan air terjun Muara Jaya yang indah. Untuk sampai ke air terjun ini, terdapat akses berupa tangga yang tingginya puluhan meter hingga ke tempat parkir mobil. Tempat wisata ini rupanya belum begitu dikenal karena di hari libur pun ternyata pengunjungnya hanya sedikit.

Dari Curug Muara Jaya, disediakan dua mobil pick up untuk mengangkut seluruh peserta menuju pos pendakian pertama bernama Blok Arban (1.614 mdpl). Dari Blok Arban, barulah perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Jalur yang ditempuh adalah Jalur Apuy dengan panjang lintasan menuju Puncak Ciremai adalah 6,9 km. Jalur yang dilalui berupa jalan setapak diapit semak belukar dan pepohonan hutan dengan tanjakan yang semakin lama semakin terjal. Begitu juga jalur menuju pos kedua (Simpang Lima - 1.915 mdpl), ketiga (Tegal Wasawa - 2.400 mdpl), keempat ( Tegal Jamuju - 2.600 mdpl) dan kelima (Sang Hyang Rangkah – 2800 mdpl). Dari pos kelima, medan yang dilalui semakin sulit, apalagi menjelang pertemuan jalur Apuy dan jalur Palutungan.

Saat mencapai pertemuan kedua jalur, kita akan ditantang tanjakan terjal bebatuan besar hingga ke puncak. Namun, pemandangan dari sini sangat menakjubkan karena kita seolah menjadi lebih tinggi dari awan. Di kejauhan, kita juga bisa melihat Puncak Gunung Slamet menyembul di antara lautan awan. Sementara matahari senja mulai tenggelam, meninggalkan kemilau lembayung berwarna jingga di ‘garis’ yang menjadi pertemuan awan dan langit. Sebuah pemandangan tak terlupakan yang mengingatkan kita akan kebesaran Sang Pencipta Alam Semesta.

Di jalur menuju Puncak, para peserta berbelok ke kiri, menuju sebuah turunan untuk menginap semalam di pos keenam (Goa Walet – 2950 mdpl). Udara di ketinggian ini sangat dingin. Posisi Goa Walet yang dikelilingi tebing membantu mengurangi terjangan angin dingin yang berbahaya bagi para trekker.
Pagi hari, barulah perjalanan dilanjutkan ke Puncak Ciremai. Sambutan kawah Ciremai yang megah membuat segala kelelahan seakan hilang. Mampu mencapai puncak tertinggi di Jawa Barat menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi para trekker IATMI Cirebon. Dan lagi-lagi, pemandangan luar biasa lautan awan dan langit biru jernih menjadi pelengkap pesona Puncak Ciremai.

Setelah puas mengabadikan pemandangan puncak, para peserta memulai perjalanan turun melalui jalur Palutungan. Jalur ini lebih panjang (8,4 km) namun relatif lebih landai.

Jika tak ada aral melintang dan Tuhan mengizinkan, tahun depan IATMI Komisariat Cirebon akan mendaki Ciremai kembali melalui Jalur Palutungan dan turun melalui Linggarjati. Berminat? ?

31 Juli 2009

TRACING THE GREATNESS OF CIREMAI



Mumpung lagi musim kemarau, naik gunung lagi yukkk!!! Hehehe... Kali ini targetnya tidak jauh dari kampung halaman IATMI Cirebon, yaitu Gunung Ciremai (3078 mdpl- meter di atas permukaan laut). Dibanding Gunung Gede-Pangrango, gunung tertinggi di Jawa Barat ini memang tidak terlalu komersial untuk didaki. Namun keeksotikannya ditambah kaitan sejarahnya dengan Sunan Gunung Jati, membuat kawasan Ciremai sangat menarik untuk ditelusuri.

Jangan khawatir dengan embel-embel "gunung tertinggi di Jabar" ini (pasti banyak yang berpikir bakalan capek banget mendakinya, hehe...) karena IATMI Komisariat Cirebon bekerjasama dengan Diaku Point Service (DPS) yang telah berpengalaman dalam pendakian Ciremai telah mengemas rancangan acara semenarik mungkin.

Jadwal acara akan dimulai Jumat malam (7 Agustus 2009). Di Bumi Perkemahan Curug Muara Jaya (Desa Apuy, Majalengka). Sambil beristirahat semalam, para trekker akan menikmati 'bebakaran' ^_^ Yupz, ikan laut dan ayam bakar lengkap dengan api unggun di tengah perkemahan.

Esok paginya, untuk penyegaran, dilakukan jalan-jalan pagi menuju Air Terjun Muara Jaya. Silakan narsis-narsisan sepuasnya ^_^ Setelah itu, barulah trekking dimulai, mengambil jalur Blok Arban (1.614 mdpl) - Simpang Lima (1.915 mdpl) - Tegal Wasawa (2.400 mdpl) - Tegal Jamuju (2.600 mdpl) - Sang Hyang Rangkah (2.800 mdpl) - dan bermalam di Goa Walet (2.950 mdpl). Trekking ke Puncak dilanjutkan keesokan paginya.

Jalur turun mengambil jalur Palutungan. Dimulai dari perkemahan di Goa Walet - Sang Hyang Ropoh - Pasanggrahan - Tanjakan Asoy - Blok Arban - Paguyangan Badak - Cigowong - Palutungan.

Biaya yang dikenakan untuk peserta Rp 320.000,00. Udah termasuk fasilitas sewa porter dan guide, sewa sleeping bag, matras, jaket, raincoat, sarung tangan, kupluk, t-shirt, asuransi, sarapan, makan siang, makan malam, buklet panduan naik gunung dan transportasi (Klayan, Cirebon - lokasi trekking p.p). Ya... ya... tau, deh, pasti pada protes mahal, ya? Kalo gitu, ajakin 4 orang teman lagi biar kamu bisa gratis ^_^.

Pendaftaran silakan klik di sini

Puncak Ciremai menantangmu! Berani? ^_^